PERGINYA SANG PEKERJA ULET: In Memoriam Musa Andani Rio

In Memoriam Ayahanda Musa Andani Rio

PERGINYA SANG PEKERJA ULET
Oleh : M. Tasbir Rais

_”Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan, Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,”_ (QS. Al-Mulk [67]: 2).

Pada siang itu, saya tiba-tiba tersentak dari pembaringan tatkala menerima kabar kepergian Ayahanda Tercinta, Musa Andani Rio melalui situs pertemanan paling populer: Grub WhatsApp. Sungguh, saya tak pernah menyangka jika kepergiannya secepat itu. Tepatnya, Senin 10 Rajab 1445 H atau bersamaan dengan 22 Januari 2024 M.

“Inna lillahi wainna ilaihi raji’un, telah berpulang ke rahmatullah Ayahanda Musa Andani Rio. Sekarang jenazah disemayamkan di kediamannya di rumah duka Desa Banua Baru,” tulis Ketua PC Muhammadiyah Wonomulyo, Ustas Zainal Abidin di Grub Muhammadiyah Polman, pukul 12.10 Wita.

Sejurus kemudian, para warga grub pun ramai-ramai menghaturkan belasungkawa yang mendalam atas berpulangnya Ayahanda yang lahir di Wonomulyo pada 05 Juli 1945 silam atau sebulan lebih sebelum Indonesia menyatakan kemerdekaannya.

Tak terkecuali, ucapan duka mendalam berhembus dari Ketua KPU Sulbar, Said Usman Umar. Dalam beranda di layar kaca FB-nya, dia menulis, “Terdengar kabar beliau telah berlalu, bahkan tidak sempat menghadiri proses pemakamannya karena tugas. Guru/senior dalam penyelenggara pemilu, beliau sejak 2004 sudah aktif sebagai pengawas pemilu. Selamat jalan sang pejuang demokrasi, semoga amal baiknya diterima di sisi-Nya, keluarganya diberi ketabahan.”

Ayahanda Musa Andani Rio (bukan Andiani) menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Hj. Andi Depu Polman pasca selama sepuluh hari lamanya menjalani perawatan intensif akibat “sakit” yang dideritanya.

Sesungguhnya, saat masih berada di rumah sakit itulah, saya dikirimi pesan singkat oleh anak keduanya, Mas Trisno Apri Nugroho yang juga mantan Fungsionaris PP IPM Periode 2012-2014 dan Ketua PW IPM Sulbar Periode 2010-2012 itu. Begitulah, saya mengetahui informasi bahwa Ayahanda sedang terbaring dan dirawat di rumah sakit. Pada saat yang sama, saya turut mendoakan semoga insya Allah Ayahanda segera sehat wal’afiat.

Kepergiannya yang membuat saya benar-benar kaget itu, tentu saja, saya amat menyesal karena tak sempat menjenguknya saat terbaring di rumah sakit. Pasalnya, pada saat yang sama, kondisi kesehatan saya sedang terganggu dalam sepekan itu.

Bahwa sepulang dari Jakarta sekian hari dan tiga pekan lamanya berada di Kota Daeng (baca: Makassar), saya jatuh sakit karena kelelahan yang mengakibatkan demam dan batuk.

Rencananya, di hari kematiannya itu, saya ingin membesuknya di rumah sakit atau setidaknya jika Ayahanda sudah keluar dari rumah sakit dan berada di rumahnya. Sekali lagi, saya sudah kehabisan kata-kata untuk menggambarkan rasa penyesalan itu.

Ayahanda Musa Andani Rio (selanjutnya ditulis Mario) memiliki empat orang anak, dua perempuan dan dua laki-laki. Ayahanda Mario sendiri empat bersaudara dan semuanya aktif di Muhammadiyah dan Aisyiyah. Saudara perempuannya bernama Ibunda Hj. Suhaiyah pernah menjabat sebagai Ketua PD Aisyiyah Polmas.

Selanjutnya, dari keempat bersaudara itu, yang masih hidup adalah Ayahanda H. Abd. Kadir. Dia sudah puluhan tahun menetap di Makassar dan merupakan mantan Kepala Sekolah Mts Pondok Pesantren Putri Aisyiyah Ummul Mukminin Makassar.

Ayahanda Mario adalah kerabat dekat saya. Dia sepupu sekali dengan ayah saya dari jalur atau sistem kekerabatan patrilineal, yaitu melalui garis keturunan laki-laki atau bapak.

Benar, ayahnya dengan ayah dari bapak saya bersaudara. Maka dalam persentuhan pemikiran dan pergaulan saya dengan Ayahanda Mario, saya pun selalu memanggilnya dengan panggilan Paman atau Om.

Dalam ingatan segar saya, Ayahanda Mario adalah Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas di Pemerintah Daerah (Pemda) Polman (dulu Polmas). Posisinya di bagian Hubungan Masyarakat (Humas) Pemda Polman hingga purnabakti alias pensiun.

Sebagai orang Humas, Ayahandalah yang menjadi penyambung atau perekam informasi publik dengan lebih utuh, jernih, dan sederhana tentang kondisi dan keadaan Pemda dan masyarakat Polmas (waktu itu). Ya, melalui tulisan-tulisannya, tak bisa dipungkiri bahwa Polmas pun dikenal luas di kalangan stakeholder dan masyarakat Sulsel khususnya dan Indonesia pada umumnya melalui pemberitaan di Surat Kabar Pedoman Rakyat yang terletak di Jl. Arief Rate Makassar. Sekadar tahu saja, inilah koran harian yang sangat familiar dan berjaya di era 70 hingga 90-an.

Dari koran harian Pedoman Rakyat terbitan Ujungpandang (dulu) ini pulalah, saya banyak belajar secara otodidak tentang dunia jurnalistik dengan mengirimkan berbagai puisi, tulisan, dan opini sejak duduk di bangku SMA kelas dua hingga menginjakkan kaki ke perguruan tinggi.

Sebagai seorang Freelance Writer, tentu saja, yang membuat hatiku senantiasa senang manakala tulisanku sudah dimuat dan menerima honorarium di Kantor Pedoman Rakyat yang terletak di Jl. Arief Rate itu.

Bahwa Ayahanda Mario adalah salah satu koresponden Pedoman Rakyat wilayah Polmas. Dalam tulisan-tulisannya, ia menggunakan nama jurnalisnya dengan akronim Mario (Musa Andani Rio).

Di akhir-akhir dirinya purnabakti, Ayahanda Mario meminta saya untuk menjadi koresponden Pedoman Rakyat atas persetujuan dari kantor pusat (Pedoman Rakyat).

Saat itu, saya menolaknya dengan halus dan tanpa mengurangi sedikit pun rasa hormat saya atas tawaran bagus itu. Sebab, saya tidak atau belum mau terikat dengan sebuah lembaga pers. Ya, saya senang saja menjadi penulis lepas yang tak terikat oleh waktu dan tempat.

Dalam perjalanan waktu, saya mengetahui bahwa meskipun Ayahanda Mario sudah tidak berdinas lagi sebagai PNS dalam kapasitasnya sebagai humas dan koresponden harian Pedoman Rakyat, namun Ayahanda tetap aktif dan terus bergelut dalam dunia sosial-keagamaan. Lihat saja, dia pernah berkiprah menjadi Ketua Panwaslu Kecamatan Wonomulyo dan dua periode sebagai Ketua PC Muhammadiyah Kebunsari Wonomulyo.

Meminjam ungkapan Ustas Awaluddin yang bertutur dalam bahasa Mandar, _”Andani mala disiwatangan to mawuwetta di’e”_ (Kita tidak bisa mengikuti ritme dan semangatnya orang tua kita ini yang luar biasa). Ustas Awaluddin yang juga seorang orator ini menyebut Ayahanda sebagai manusia yang melampaui batas usianya. Bahwa di tengah usianya yang sudah tak muda lagi, dia justru tetap energik, produktif, dan “tidak mau pensiun” dalam beraktivitas demi tetap menjaga stamina dan kebugaran tubuhnya.

Sungguh, Ayahanda adalah tipe pekerja ulet, sikap pantang menyerah, dan penuh tanggung jawab atau memiliki integritas terhadap amanah yang diembankan kepadanya.

Dalam konteks inilah, mengingatkan saya pada saat Musyawarah Wilayah (Musywil) ke-3 Muhammadiyah Sulbar di mana Kabupaten Pasangkayu ditunjuk atau bertindak sebagai tuan rumah, Jumat-Ahad, 24-26 Februari 2023.

Ayahanda sangat semangat dan riang-gembira mengikuti Musywil ke-3 itu sebagai peserta penuh. Saya satu rombongan dengan Ayahanda ke Pasangkayu dengan berbagai cerita yang menarik dan menghibur.

Benar, Penulis M. Tasbir Rais, Imam Masjid Utsman Bin Affan Ust. Abdul Napi Salim, Ketua PCM Polewali, H. Muhammad Natsir, dan Ketua IPM Polman Andi Macoa Gau satu bus dengan Pamanda saat pelepasan dan pemberangkatan rombongan dari kediaman Ketua PDM Polman, H. Abd. Azis Ghozal di Wonomulyo.

Begitu pula saat balik lagi ke Polman, canda-tawa dan rasa humornya yang tinggi terus mengalir sepanjang jalan hingga tiba di malam hari. Bahwa suasana perjalanan Polman-Pasangkayu (Pergi Pulang) terasa “hidup” dan menggembirakan karena Ayahanda selalu menghibur dengan melempar cerita-cerita yang menggelitik sekaligus menggemaskan.

Semangatnya yang luar biasa juga ditunjukkan manakala berlangsung Musyawarah Daerah (Musyda) Polman X di Kampus Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah (ITBM) Polman di bilangan Kuningan Wonomulyo itu, Jumat 19 Mei 2023.

Benar kata ungkapan, “Usia itu soal angka. Yang terpenting itu, semangat untuk selalu berbagi kebahagiaan.” Setidaknya, narasi ini cocok untuk dialamatkan kepada sosok Ayahanda yang supel dan tidak mau memusingkan diri dengan sesuatu yang tak berarti itu.
Di hari kematiannya, sejumlah kerabat, handai taulan, dan sejumlah tokoh atau pejabat tampak hadir melayat dan melepas kepergiannya. Lihat saja, hadir mantan Bupati Polman dua periode dan Gubernur Sulbar satu periode, H. A. M. Ali Baal Masdar dan Ketua Pj. Tim PKK Polman, Dahlia. Tampak juga hadir mantan Ketua KPU Polman, Muhammad Danial dan para pejabat serta staf Kecamatan Wonomulyo dimana anak pertama Pamanda Mario, Endang Sri Wulan bertugas di Kantor Kecamatan Wonomuoyo.

Saya melihat pula dari kalangan fungsionaris PW Muhammadiyah Sulbar H. Abd. Hafid Malla serta PD Muhammadiyah Polman, Ketua dan sekretaris H. Abd. Azis Ghozal, Muslimin Ramli, Syamsuddin serta Syarif Hidayat Tasman, dan Miftahur Rahman Hafid.

Dalam pembicaraan santai para pelayat itu, terdengarlah kesimpulan cerita yang betapa menggugah dan membuat hati trenyuh bahwa Ayahanda adalah orang yang sangat baik dan peramah atau periang dengan senyuman khasnya serta tak mau menyusahkan diri atau orang lain.

Proses memandikan dan mengkafani Ayahanda Mario ditangani langsung oleh Ketua PC Muhammadiyah Wonomulyo, Ustas Zainal Abidin bersama santrinya dari Rumah Tahfidz Cahaya Berkah Banua Baru. Lalu, dishalatkan di Masjid Merdeka Wonomulyo yang dipimpin langsung oleh Imam Masjid Merdeka Wonomulyo hingga pelayat mengantarnya ke tempat peristirahatannya yang terakhir di Pekuburan Islam Jombang, untuk kemudian Ayahanda akan berproses menuju perjalanan panjangnya menuju sang Maha Menghidupkan dan Mematikan: Allah Swt.

Kini, Ayahanda Mario telah kembali untuk selamanya kepada Tuhannya. Ya, “masa kontrak”-nya hidup di alam fana ini benar-benar telah selesai. Dan pada akhirnya, dia telah berpindah alamat atau tempat ke alam barzah atau alam kubur yang satu lokasi pekuburan dengan sang istri tercinta di Pekuburan Islam Dusun Jombang Desa Sugihwaras Kecamatan Wonomulyo Kabupaten Polman Provinsi Sulbar. Sekadar catatan tambahan, istrinya sendiri lebih awal memenuhi panggilan sang Khaliq pada Kamis, 15 Februari 2018 silam.

Selamat jalan, Ayahanda. Kita semua, suka tidak suka, cepat atau lambat, dan mau tidak mau pasti menyusul dan menutup (lebih tepatnya ditutup) lembaran hidupnya. Benar, hidup ini antrian dan kita tinggal menunggu panggilan dari sang Pemilik Alam Semesta.

Semoga insya Allah, Ayahanda di alam sana “mario” dengan balasan amal yang ditanamnya dalam ber-fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebajikan) di hidup dan kehidupannya.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan mengutip firman Allah dalam QS. Al-Fajr [89]: 27-30, _”Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan, masuklah ke dalam surga-ku.”

Pada akhirnya, doa yang tulus kita panjatkan untuk Ayahanda Mario: _”Allahumaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu anhu”_ (Ya Allah, ampunilah, berilah dia rahmat, kesejahteraan serta maafkanlah kesalahannya).

Allahumma aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.